Thursday, April 19, 2007

Menengok Awal Perjuangan Diplomasi Indonesia

Pernah dengar kata Linggarjati? Pasti pernah dong, ya! Dalam sejarah kemerdekaan RI, Linggarjati merupakan tempat perundingan Indonesia dan Belanda yang kemudian disebut perundingan Linggarjati atau Linggajati. Perundingan ini merupakan awal perjuangan diplomasi Indonesia. Berwisata sejarah ternyata mengasikkan lho!





DI KAKI GUNUNG CIREMAI

Museum perundingan Linggarjati terletak di kecamatan Cilimus, kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Jika sobat ingin berwisata sejarah, tidak sulit untuk menjangkau situs tempat berlangsungnya perundingan Linggarjati baik dari arah Cirebon maupun dari Kuningan. Jika melewati ruas pantai utara Jawa Barat, sobat bisa berbelok ke arah selatan keluar di gerbang Ciperna pada ruas tol Cirebon. Ambil arah kota Kuningan dan dalam waktu 20 menit kita mencapai kecamatan Cilimus yang berjarak 25 kilometer dari Kota Cirebon. Sedangkan dari arah Kota Kuningan berjarak sekitar 17 kilometer. Desa Linggarjati terletak di kaki gunung Ciremai (3.078 m), tempat kawasan Wisata Linggarjati dan situs bangunan Perundingan Linggarjati berdiri.

AWAL DIPLOMASI INDONESIA

Bangunan kuno berarsitektur Hindia Belanda seluas 800 meter ini berdiri di atas lahan 2,4 hektar dan secara keseluruhan terpelihara sangat baik. Hawa sejuk Gunung Ciremai masuk melalui jendela-jendela besar yang terbuka di berbagai sudut bangunan.
“Akhir Januari 2005 baru saja mengalami pengecatan, “ kata Pak Judi (57), petugas museum yang telah bertugas di Linggarjati sejak 1975.

Dengan fasih, Pak Judi menjelaskan proses berlangsungnya perundingan Linggarjati di ruang tengah tersebut. Lord Killearn, mediator berkebangsaan Inggris duduk di kursi tunggal ujung utara, lalu di sisi kiri-kanan meja duduk delegasi Indonesia dan Belanda. Delegasi Belanda diwakili tim yang disebut Komisi Jendral dan dipimpin oleh Schermenhorn dengan anggota Dr. Van Mook, Mr. Van Pool dan Dr. F. De Boer. Delegasi Indonesia diwakili Kabinet Sjahrir III dipimpin oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir dengan anggota Mohammad Roem, Susanto Tirtoprodjo dan AK.Gani.

Di bagian selatan, meja yang ditempati Ali Boediardjo, Amir Sjarifoedin, Dr. Soedarsono dan Dr.J. Leimena sebagai notulen. Pada ruang tamu terdapat diorama perundingan, meja kursi, jok kursi sudah mengalami penggantian dengan dominasi warna asli (abu-abu) dan sebuah piano yang masih asli dari masa perundingan berlangsung.

Hasil perundingan terdiri dari 17 pasal, dan tiga dintaranya (1) Pemerintah RI dan Belanda bersama-sama menyelenggarakan berdirinya sebuah negara berdasarkan federasi yang dinamai Indonesia Serikat, (2) Pemerintah Republik Indonesia Serikat akan tetap bekerja sama dengan pemerintah Belanda membentuk Uni Indonesia Belanda, (3) Belanda mengakui kedaulatan de facto RI atas Jawa, Madura dan Sumatra.

Perundingan Linggarjati merupakan tonggak sejarah penting awal perjuangan diplomasi Indonesia yang membuahkan hasil pengakuan dunia Internasional atas kemerdekaan RI. Bahwa selain perjuangan fisik untuk merebut kemerdekaan juga diperlukan perjuangan diplomasi sebagai simbol tekad dan kemampuan bangsa Indonesia menyelesaikan konflik dengan cara-cara damai.
Ibarat sungai, Linggarjati merupakan salah satu mata air yang mengalirisungai tersebut, lalu air mengalir terus sampai ke hilir danbermuara di laut membentuk lautan yang luas dengan segalakekayaaan alamnya. Tak heran jika setelah perundingan Linggarjati ini, kemudian muncul perundingan lainnya, seperti perjanjian Renville dan Perjanjian KMB (Komisi Meja Bundar).


RIWAYAT GEDUNG

Sebelum diresmikan sebagai museum (1976) bangunan ini pernah berubah-rubah fungsi. Ditempati oleh Sekolah Dasar negeri Linggarjati (1950-1975), menjadi markas Belanda pada agresi militer II (1948-1950), tempat perundingan Linggarjati (1946), Hotel Merdeka (1945), Hotel Hokay Ryokan (1942) dan Hotel Rustoord (1935).

“Pada tahun 1918 di tempat ini berdiri gubuk Ibu Jasitem, janda yang kemudian menikah dengan seorang berkebangsaan Belanda,” jelas Pak Judi ketika saya membaca riwayat berdirinya gedung.

Seorang berkebangsaan Belanda itu bernama Meneer Mergen atau dikenal sebagai Tuan Tersana (pemilik pabrik gula Nieuw di Kabupaten Cirebon) yang kemudian merombak gubuk Ibu Jasitem menjadi bangunan semi permanent (1921). Rumah ini kemudian dijual ke Van Ost Dome –bangsa Belanda- (1930) dan dibangun menjadi permanent.

Keseluruhan bangunan ini terdiri dari beberapa ruang, yaitu ruang tamu, ruang tengah, kamar tidur, kamar mandi dan ruang belakang. Ruang tamu dipergunakan sebagai ruang untuk melakukan lobi dan meeting informal, ruang tengah merupakan ruang utama dimana perjanjian Linggarjati dilaksanakan, sedangkan kamar tidur yang bersebelahan dengan ruang perundingan merupakan tempat tidur yang dipergunakan oleh delegasi Indonesia dan Belanda selama mengikuti jalannya perundingan.

Selain piano, hanya meja makan dan kursi yang benar-benar masih asli. Selebihnya merupakan replika sesuai yang digunakan pada masa itu karena furniture asli tidak sempat terpelihara dalam waktu puluhan tahun. Bahkan perabot-perabot asli di gedung itu dikembalikan atas itikad baik dari penduduk setempat yang selama ini merawat dan menyimpan furniture tersebut.

Hampir keseluruhan ubin di Gedung Perundingan Linggarjati didominasi warna hijau dan coklat muda merupakan ubin asli. Ada tambahan ubin berwarna kuning karena ubin asli telah amblas. Sementara, kusen maupun daun pintu dan daun jendela masih asli.

Biaya operasional tempat ini selain diberi subsidi olehPemerintah, juga sedikit terbantu oleh kehadiran pengunjung. Pengunjungyang datang diharapkan bisa mengisi uang kas dengan jumlah seikhlasnya,kemudian uang tersebut digunakan untuk membantu biaya perawatan gedung. Ada 14 orang yang membantu merawat gedung ini, diantaranya 7 orang merupakan PNS (Pegawai Negeri Sipil ), dan sisanya adalah pegawai honorer.

WISATA SEJARAH

Pada hari-hari biasa, tempat ini sepi pengunjung. Pengunjung tertinggi pelajar yang datang secara berkelompok pada masa liburan sekolah. Mahasiswa sangat jarang berkunjung, sementara pengunjung umum relatif sedikit. Terkadang ada pula kunjungan nostalgia dari wisman Belanda.

Memandang bangunan kuno, beberapa perabot asli 60 tahun lalu, dan foto-foto para tokoh perundingan membuat dada saya sedikit bergejolak. Betapa mahal harga sebuah kemerdekaan? Betapa berat perjuangan mendapatkan pengakuan dunia akan kemerdekaan RI? Dan…oh, pada masa sekarang apa yang telah kita lakukan? Kita sibuk menjegal teman untuk mendapat jabatan, menumpuk harta korupsi di bawah bantal karena takut ketahuan, menjual tampang baik untuk mendapatkan pengakuan, bahkan ribut kursus laptop sementara rakyat miskin semakin menjerit kelaparan. Seharusnya tidak hanya pelajar (untuk mendapatkan bukti kongkrit dari mata pelajaran sejarah kemerdekaan RI) yang berkunjung ke museum ini, namun juga para pejabat dan anggota DPR agar ingatannya terbuka akan kerasnya perjuangan RI.

Setelah mengajak Pak Judi foto bersama, tepat pukul 3 sore saya berpamitan. Namun, sebelum menuju mobil saya menyempatkan diri berjalan menyusuri kawasan wisata Linggarjati. Tidak jauh dari Museum Linggarjati, tersedia juga obyek wisata alam, perhotelan, pusat hiburan musik dan kawasan peristirahatan (vila) sebagai pelengkap wisata Museum Linggarjati. Kita bisa menikmati udara sejuk Gunung Ciremai dari taman dengan pohon-pohon rindang, dilengkapi berbagai fasilitas, seperti kolam renang dan danau buatan.

Niscaya tidak hanya wisata sejarah yang mengasikkan jika kita mengunjungi Museum Perundingan Linggarjati, namun juga menumbuhkan semangat nasionalisme yang semakin hari semakin pudar digerus arus globalisasi. Selain itu kita bisa lebih menghargai jasa para pahlawan dalam memperjuangan kemerdekaan RI. Nah, tertarik berkunjung? Saya jamin, sobat semua tidak membuang waktu sia-sia jika datang ke sana.

(teks: Tary. Dok: Wija)

Monday, February 19, 2007

PESONA MISTIS KAMPUNG BADUY

Sejak menjadi provinsi mandiri, pemerintahan provinsi (Pemprov) Banten memasukkan suku Baduy dalam tujuh keajaiban Banten (seven worders of Banten). Baduy menjadi salah satu komoditas wisata andalan Banten, di samping Pulau Sebesi, Pulau Sanghyang, Gunung Krakatau, Taman Nasional Ujung Kulon, Situs Arkeologi Banten lama dan matahari terbenam (sunset) di Selat Sunda.

Bersama teman peneliti dan fotografer, saya mengunjungi Kampung Baduy. Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi cerita tentang petualangan saya menikmati kehidupan masyarakat Baduy yang konon serba misterius dan eksotis.

Menuju Lokasi

Suku Baduy bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Perkampungan Baduy berjarak kurang lebih 40 kilometer dari kota Rangkasbitung, 75 kilometer dari ibu kota Provinsi Banten dan sekitar 130 kilometer dari Jakarta.
Pukul 11.00, kami berangkat dari stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat dengan menaiki kereta ke arah Merak via Rangkasbitung. Kereta datang terlambat sehingga perjalanan yang seharusnya memakan waktu 1,5 jam menjadi 2 jam. Dari Rangkasbitung, kami naik angkutan kota (warga setempat menyebutnya ELF) ke Ciboleger. ELF melewati jalan berkelok-kelok berlubang yang membuat perut kami mual. Tiga jam kemudian ELF masuk Ciboleger dan disambut Patung Keluarga Pak Tani.
Desa Ciboleger adalah salah satu pintu keluar yang menghubungkan warga Baduy dengan dunia luar. Hampir setiap hari mereka melewati Ciboleger dengan membawa hasil pertanian dan masuk ke Kanekes membawa kebutuhan sehari-hari. Ciboleger merupakan daerah terakhir yang dapat dicapai dengan angkutan umum. Selanjutnya kami menjelajahi alam Baduy dengan berjalan kaki.

Berjalan kaki melewati jalan setapak di antara hutan perawan, kicau burung, gemericik air sungai, suara gesekan daun-daun bambu, sesekali berpapasan dengan gadis-gadis Baduy yang bercaping lebar, pemuda-pemuda memanggul kayu dan menyeberangi jembatan bambu merupakan tempat eksotis sempurna bagi petualang yang ingin menikmati suasana alami pegunungan.

Keramahan Masyarakat Baduy

Senja hampir tenggelam saat kami memasuki perkampungan Baduy. Terlihat rumah-rumah panggung yang lantainya 1 meter si atas tanah dengan bangunan mengikuti kontur tanah dan selalu berhadap-hadapan rapih. Rangka rumah terbuat dari kayu dan dinding dari anyaman bambu serta beratap daun rumbia ditambah ijuk.

Bayangan mistis di kepala saya lenyap ketika singgah di rumah Mang Arji (40 tahun) seorang warga Kadukeutug, kawasan Baduy luar, yang kemudian menjadi guide perjalanan kami. Dengan ramah keluarga Mang Arji mempersilakan kami istirahat. Bahkan menjamu kami dengan sepiring gula merah dan air putih pegunungan yang segar. Meskipun mereka tidak fasih berbahasa Indonesia dan saya hanya mengerti sedikit saja bahasa Sunda, namun komunikasi berjalan lancar.

Usai maghrib, kami melanjutkan perjalanan ke Balimbing. Di sanalah rencananya kami akan menginap. Jarak tempuh 2,5 kilometer kami lewati dengan lamban karena hari sudah gelap. Dengan bantuan senter dan berteman suara hewan-hewan malam kami naik turun tanjakan curam menuju Balimbing. Jam 19.30, kami masuk Balimbing dan langsung disambut Pak Sarpin (36 tahun), pemilik rumah. Beliau menunggu kedatangan kami di halaman sambil mengobrol dengan beberapa warga.

Sebagai kader kesehatan, rumah Pak Sarpin dilengkapi kamar mandi. Setelah membersihkan badan, kami dijamu makan malam. Menyantap nasi putih hangat dengan lauk ikan asin terasa nikmat. Kami terlibat pembicaraan yang akrab dan hangat. Saat tikar dan bantal dipersiapkan untuk tidur, saya menyelinap ke halaman. Suasana malam hening dan tenang. Tidak ada gemerlap cahaya listrik. Hanya kedipan sinar lampu templok berbahan bakar minyak kelapa atau minyak jarak dengan sumbu sabut kelapa. Listrik termasuk barang haram bagi masyarakat Baduy, kendati di desa-desa sekitarnya sejak beberapa tahun lalu listrik sudah masuk.

Keramahan masyarakat Baduy menunjukkan bahwa Baduy bukanlah kawasan tertutup. Mereka tidak menolak orang asing di kampung mereka, bahkan tidak keberatan jika ada tamu yang hendak menginap di rumah mereka. Hanya memang khusus untuk Baduy Dalam, ada bulan-bulan tertentu yang dianggap suci (bulan Kawalu), orang asing tidak boleh datang. Sedangkan di luar bulan itu, Baduy Dalam membatasi rombongan pengunjung yang ingin menginap tidak lebih dari 10 orang. Hal ini untuk menjaga ketertiban dan ketenangan warga kampung Baduy.

Kelompok dalam Masyarakat Baduy

Secara umum masyarakat Baduy terbagi menjadi 2 kelompok yakni Baduy Dalam dan Baduy Luar. Baduy Dalam (Tangtu Tilu) dikenal sebagai kelompok yang paling ketat mengikuti adat istiadat tinggal di 3 kampung yakni; Cibeo, Cikertawana dan Cikeusik. Ciri khas orang Baduy Dalam mengenakan busana lengan panjang warna putih, tidak berkerah dan berkancing serta kain bawah biru dongker dengan hanya dililitkan. Para lelaki umumnya mengenakan ikat kepala berwarna putih. Sedangkan kelompok Baduy Luar tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Baduy Dalam, seperti Kadukeutug, Gajeboh, Cikadu dan sebagainya. Ciri khas orang Baduy Luar mengenakan busana hitam berlengan panjang, bagian bawah kain berwarna biru dan ikat kepala hitam atau biru tua untuk laki-laki. Kaum perempuan menggunakan kebaya biru atau hitam dan kain biru bermotif kembang-kembang.

Aturan adat di Baduy Dalam tidak bisa ditawar-tawar. Warga Baduy Dalam dilarang memakai alat transfortasi dan alas kaki. Mereka tetap berjalan kaki meskipun menempuh perjalanan jauh ke luar kota. Aturan adat yang juga harus diikuti para pengunjung Baduy Dalam adalah tidak berfoto, tidak menggunakan sabun dan odol di sungai. Namun aturan ketat Baduy terasa longgar di Baduy Luar. Warga Baduy Luar boleh menggunakan alat transfortasi untuk melakukan perjalanan di luar kawasan Baduy namun dilarang memilikinya. Di Baduy Luar juga dapat dijumpai penduduk dengan pakaian warna-warni dengan berbagai model seperti T’Shirt, jaket, celana jeans, sandal jepit. Bahkan beberapa warga memiliki handphone untuk bersms ria dengan para kenalan di luar Baduy dan memanfaatkan radio sebagai hiburan.

Buah Tangan

Sebagai buah tangan, warga Baduy menjual hasil kerajinan tangan khas Baduy kepada pengunjung seperti; ikat kepala, golok/parang, baju, celana, sarung, tas yang terbuat dari kulit kayu, kain tradisional hasil tenun/ selendang dan pernik-pernik dari tempurung kelapa. Hasil penjualan itu mereka gunakan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari di samping hasil pertanian dan berladang.

Tiga hari tinggal di perkampungan Baduy membuat saya banyak merenung. Dalam malam yang hening dan tenang saya merasa dekat kepada Allah. Dalam keramahan masyarakat Baduy saya menemukan cinta yang tulus tanpa pretensi. Jelas bahwa Allah menciptakan berjenis-jenis manusia untuk saling mengenal dan bukan bermusuhan. Maka perpisahan menjadi sangat berat. Beberapa warga mengantar kami sampai perbatasan. Sungguh, saya akan merindukan semua ini. Saat mobil ELF yang kami tumpangi meninggalkan Ciboleger, hati saya berkata: “kelak, jika Allah mengizinkan, saya akan kembali.”

DIENG, LEMBAH NAN EKSOTIS

Saya terpesona. Itulah kesan pertama saya, saat seorang teman kost yang berasal dari Banjarnegara menceritakan tentang dataran tinggi Dieng. Saya hanya mampu memandangi foto yang dibawa teman saya itu sambil berharap bahwa suatu ketika saya bisa menikmati keindahan Dieng secara nyata.

Rupanya Allah mengabulkan harapan saya. Dini hari, pertengahan Mei 1997, saya bersama rekan-rekan staff redaksi buletin kampus meninggalkan Yogyakarta menuju Dieng untuk mengadakan perjalanan jurnalistik . Fajar belum menyingsing ketika mobil kijang yang saya tumpangi bersama rekan-rekan menembus udara dingin kota Wonosobo. Eksotis! Itulah kesan pertama yang menggoda pandangan saya saat melihat jalanan yang berkelok-kelok diantara kebun sayuran dan teh.
Alam pegunungan Dieng yang indah diantara Gunung Sundoro (3.151M), Sumbing (3.371M), Perahu (2.565 M), Bismo (3.365 M) dan Rogojembangan (2.177 M) yang menjulang, mengingatkan saya pada keindahan Nepal, Kathmandu. Wilayah yang berada pada gugusan pegunungan Himalaya di kota Darjeeling berbatasan dengan Tibet yang pernah saya lihat di layar kaca.

Desa dengan luas wilayah kurang lebih 619.848 ha yang berada pada ketinggian 2093 meter diatas permukaan laut ini terletak di perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, Jawa Tengah. Tepatnya sekitar 130 km sebelah utara Yogyakarta atau bisa ditempuh selama 3,5 jam perjalanan Yogyakarta - Dieng. Wilayah terbesar dataran tinggi Dieng milik Kabupaten Banjarnegara, namun untuk sampai kesana, lebih mudah dicapai melalui Wonosobo.

Menurut rencana, sebelum memasuki Dieng, kita akan melihat Golden Sunrise, yaitu matahari terbit pertama yang berwarna keemasan. Dieng memang menawarkan sensasi yang fantastis jika kita datang melalui Wonosobo. Yaitu melihat dua kali matahari terbit. Matahari terbit pertama disebut Golden Sunrise karena berwarna keemasan. Sedangkan matahari terbit kedua disebut Silver Sunrise karena berwarna putih keperakan. Matahari terbit pertama dapat dilihat melalui menara setinggi 1700 meter sebelum memasuki Dieng, sedangkan matahari terbit kedua dapat dilihat dari komplek Candi Hindu.

Pukul 06.15 pagi kami sampai di kawasan dataran tinggi Dieng. Suasana masih lengang dan berselimut kabut tebal. Pemandangan indah meliputi komplek seputar candi. Kabut putih yang mengambang rendah menciptakan panorama sangat fantastik. Seperti berada di atas awan. Tak heran kalau Dieng disebut desa kahyangan.

Hawa dingin memaksa kami semakin merapatkan jaket masing-masing. Dieng memiliki suhu rata-rata antara 15 derajat celcius pada siang hari dan 10 derajat celcius pada malam hari. Pada musim kemarau, suhu dapat turun drastis di bawah titik nol derajat Celcius. Rendahnya suhu tersebut membekukan embun. Menurut petani yang kami temui di Wonosobo, kristal-kristal embun yang sering disebut embun upas sangat tidak bersahabat. Tanaman kentang dan kubis terancam jika embun ganas tersebut datang. Kawasan Dieng terkenal sebagai penghasil jamur sedangkan wilayah Wonosobo menghasilkan kentang.

Selain melakukan perjalanan jurnalistik dan ta’dabur alam, tujuan kami mengunjungi dataran tinggi Dieng juga untuk melakukan bakti sosial. Sebagai wujud kecintaan kami pada buku, kami menyumbangkan beberapa kardus buku bacaan untuk warga desa Dieng. Terutama untuk anak-anak. Alhamdulillah, Kepala Desa menerima kami pagi itu. Bahkan beberapa orang warga desa diperintahkan Pak Kades untuk memandu kami menjelajahi obyek wisata Dieng.

Dataran tinggi Dieng memang memiliki pemandangan alam yang memukau. Hamparan hutan jati, kawah-kawah yang masih aktif serta udara yang sejuk membuat kawasan wisata ini berkesan damai dan tenang. Menurut salah satu warga desa yang memandu kami, Dieng berasal dari Di-hyang atau kahyangan tempat bersemayamnya para dewa. Konon, Dieng plateau atau dataran tinggi Dieng merupakan tempat ziarah raja-raja Jawa yang beragama Hindu. Mungkin karena tempatnya dipuncak gunung, para raja Jawa itu membuat candi Arjuna untuk bersemedi.

Tempat menarik pertama yang kami kunjungi adalah Kawah Sikidang, berjarak 2 kilometer dari Desa Dieng. Kawah Sikidang merupakan gejala alam pasca vulcanis yang menarik. Kepundannya berisi air panas yang mendidih terus menerus, disertai lumpur berwarna keruh dan tak henti menyemburkan asap berwarna putih dengan aroma khas belerang yang kadang menusuk hidung. Kawah ini letaknya sering berpindah-pindah seperti gerakan kijang. Mungkin karena itu sehingga dinamakan Kawah Sikidang. Sikidang merupakan pelesetan bahasa Jawa ‘kidang’ yang berarti “kijang”.

Menjelang siang kami melanjutkan perjalanan menuju Telaga Warna yang berada di kawasan hutan wisata. Menurut literature, telaga warna ini dulu bekas kepundan gunung berapi yang pernah meletus pada jaman purba. Berbagai kandungan bahan mineral dan belerang dalam danau ketika tertimpa sinar matahari memantulkan warna-warni pada permukaan air telaga. Antara lain putih, kuning dan hijau. Seperti pelangi yang terhampar diatas permukaan air. Indah sekali. Warna itu akan terlihat jelas ketika matahari sedang terik-teriknya.

Setelah puas menikmati keindahan telaga warna, kami mengunjungi Goa Semar yang ada di dekat Telaga Pengilon. Goa batu ini memiliki panjang sekitar lima meter. Keluar dari Goa Semar waktu dhuhur telah masuk dan kamipun sholat berjama’ah di musala yang ada di tepi hutan wisata.

Seusai sholat dhuhur kami melanjutkan perjalanan menuju kompleks candi. Di kompleks candi “pandawa” ini ada Candi Semar , Arjuna, Puntadewa, Sembadra dan Srikandi. Salah satu candi yang berada diluar komplek Candi Pandawa adalah Candi Bimo. Candi Bimo memiliki motif relief seperti candi-candi India. Selepas menyusuri komplek candi kami menuju tempat peristirahatan yang telah disediakan di kawasan wisata Dieng.
Beberapa anak berambut gimbal seperti pemain bola Ruud Gullit tampak mengelilingi kami yang sedang beristirahat sambil makan. Menurut warga desa secara ajaib anak-anak Dieng yang berusia 40 hari- 6 tahun memiliki rambut demikian.
Warga Dieng tampak lalu lalang menjajakan dagangannya. Harganya cukup murah. Ada yang menjual beberapa macam tanaman, cindera mata dan kentang . Selain itu ada makanan khas yang dijual yakni jamur Dieng yang telah diolah sebagai keripik. Harganya cukup murah, Rp.3500 per bungkus. Saya dan rekan-rekan sempat mencicipi keripik jamur Dieng yang lumayan enak.

Udara yang dingin membuat wanita-wanita Dieng selalu melilitkan selendang dikepala dan yang laki-laki bersarung. Hampir keseluruhan pipi warga Dieng kemerah-merahan. Mungkin karena udara yang teramat dingin atau secara genetis orang-orang di daerah itu mempunyai kecenderungan demikian.

Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa hari telah beranjak sore. Sebelum matahari tenggelam mau tak mau kami harus mengakhiri perjalanan dan kembali ke Yogyakarta. Diiringi tatapan penuh binar dan pipi-pipi merah penduduk Dieng, saya dan rekan-rekan meninggalkan desa kahyangan itu dengan enggan. Matahari terbit, Kawah Sikidang, Telaga Warna, Goa Semar, komplek Candi “Pandawa”, dan rambut gimbal anak-anak Dieng masih melekat dibenak saya. Semua fenomena Dieng mengingatkan saya pada Allahu Rabbi, Sang Maha Indah. Yang telah melukis alam ciptaan-Nya dengan keindahan yang demikian dahsyat. Dalam doa menuju Yogya saya menitikkan air mata.
(Disini, di dataran tinggi yang sunyi ini, aku menyaksikan keagungan dan kelembutan-Mu, yang ghaib dan yang maujud, Ya Rabb…)