DI KAKI GUNUNG CIREMAI
Museum perundingan Linggarjati terletak di kecamatan Cilimus, kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Jika sobat ingin berwisata sejarah, tidak sulit untuk menjangkau situs tempat berlangsungnya perundingan Linggarjati baik dari arah Cirebon maupun dari Kuningan. Jika melewati ruas pantai utara Jawa Barat, sobat bisa berbelok ke arah selatan keluar di gerbang Ciperna pada ruas tol Cirebon. Ambil arah kota Kuningan dan dalam waktu 20 menit kita mencapai kecamatan Cilimus yang berjarak 25 kilometer dari Kota Cirebon. Sedangkan dari arah Kota Kuningan berjarak sekitar 17 kilometer. Desa Linggarjati terletak di kaki gunung Ciremai (3.078 m), tempat kawasan Wisata Linggarjati dan situs bangunan Perundingan Linggarjati berdiri.
AWAL DIPLOMASI INDONESIA
Bangunan kuno berarsitektur Hindia Belanda seluas 800 meter ini berdiri di atas lahan 2,4 hektar dan secara keseluruhan terpelihara sangat baik. Hawa sejuk Gunung Ciremai masuk melalui jendela-jendela besar yang terbuka di berbagai sudut bangunan.
“Akhir Januari 2005 baru saja mengalami pengecatan, “ kata Pak Judi (57), petugas museum yang telah bertugas di Linggarjati sejak 1975.
Dengan fasih, Pak Judi menjelaskan proses berlangsungnya perundingan Linggarjati di ruang tengah tersebut. Lord Killearn, mediator berkebangsaan Inggris duduk di kursi tunggal ujung utara, lalu di sisi kiri-kanan meja duduk delegasi Indonesia dan Belanda. Delegasi Belanda diwakili tim yang disebut Komisi Jendral dan dipimpin oleh Schermenhorn dengan anggota Dr. Van Mook, Mr. Van Pool dan Dr. F. De Boer. Delegasi Indonesia diwakili Kabinet Sjahrir III dipimpin oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir dengan anggota Mohammad Roem, Susanto Tirtoprodjo dan AK.Gani.
Di bagian selatan, meja yang ditempati Ali Boediardjo, Amir Sjarifoedin, Dr. Soedarsono dan Dr.J. Leimena sebagai notulen. Pada ruang tamu terdapat diorama perundingan, meja kursi, jok kursi sudah mengalami penggantian dengan dominasi warna asli (abu-abu) dan sebuah piano yang masih asli dari masa perundingan berlangsung.
Hasil perundingan terdiri dari 17 pasal, dan tiga dintaranya (1) Pemerintah RI dan Belanda bersama-sama menyelenggarakan berdirinya sebuah negara berdasarkan federasi yang dinamai Indonesia Serikat, (2) Pemerintah Republik Indonesia Serikat akan tetap bekerja sama dengan pemerintah Belanda membentuk Uni Indonesia Belanda, (3) Belanda mengakui kedaulatan de facto RI atas Jawa, Madura dan Sumatra.
Perundingan Linggarjati merupakan tonggak sejarah penting awal perjuangan diplomasi Indonesia yang membuahkan hasil pengakuan dunia Internasional atas kemerdekaan RI. Bahwa selain perjuangan fisik untuk merebut kemerdekaan juga diperlukan perjuangan diplomasi sebagai simbol tekad dan kemampuan bangsa Indonesia menyelesaikan konflik dengan cara-cara damai.
Ibarat sungai, Linggarjati merupakan salah satu mata air yang mengalirisungai tersebut, lalu air mengalir terus sampai ke hilir danbermuara di laut membentuk lautan yang luas dengan segalakekayaaan alamnya. Tak heran jika setelah perundingan Linggarjati ini, kemudian muncul perundingan lainnya, seperti perjanjian Renville dan Perjanjian KMB (Komisi Meja Bundar).
RIWAYAT GEDUNG
Sebelum diresmikan sebagai museum (1976) bangunan ini pernah berubah-rubah fungsi. Ditempati oleh Sekolah Dasar negeri Linggarjati (1950-1975), menjadi markas Belanda pada agresi militer II (1948-1950), tempat perundingan Linggarjati (1946), Hotel Merdeka (1945), Hotel Hokay Ryokan (1942) dan Hotel Rustoord (1935).
“Pada tahun 1918 di tempat ini berdiri gubuk Ibu Jasitem, janda yang kemudian menikah dengan seorang berkebangsaan Belanda,” jelas Pak Judi ketika saya membaca riwayat berdirinya gedung.
Seorang berkebangsaan Belanda itu bernama Meneer Mergen atau dikenal sebagai Tuan Tersana (pemilik pabrik gula Nieuw di Kabupaten Cirebon) yang kemudian merombak gubuk Ibu Jasitem menjadi bangunan semi permanent (1921). Rumah ini kemudian dijual ke Van Ost Dome –bangsa Belanda- (1930) dan dibangun menjadi permanent.
Keseluruhan bangunan ini terdiri dari beberapa ruang, yaitu ruang tamu, ruang tengah, kamar tidur, kamar mandi dan ruang belakang. Ruang tamu dipergunakan sebagai ruang untuk melakukan lobi dan meeting informal, ruang tengah merupakan ruang utama dimana perjanjian Linggarjati dilaksanakan, sedangkan kamar tidur yang bersebelahan dengan ruang perundingan merupakan tempat tidur yang dipergunakan oleh delegasi Indonesia dan Belanda selama mengikuti jalannya perundingan.
Selain piano, hanya meja makan dan kursi yang benar-benar masih asli. Selebihnya merupakan replika sesuai yang digunakan pada masa itu karena furniture asli tidak sempat terpelihara dalam waktu puluhan tahun. Bahkan perabot-perabot asli di gedung itu dikembalikan atas itikad baik dari penduduk setempat yang selama ini merawat dan menyimpan furniture tersebut.
Hampir keseluruhan ubin di Gedung Perundingan Linggarjati didominasi warna hijau dan coklat muda merupakan ubin asli. Ada tambahan ubin berwarna kuning karena ubin asli telah amblas. Sementara, kusen maupun daun pintu dan daun jendela masih asli.
Biaya operasional tempat ini selain diberi subsidi olehPemerintah, juga sedikit terbantu oleh kehadiran pengunjung. Pengunjungyang datang diharapkan bisa mengisi uang kas dengan jumlah seikhlasnya,kemudian uang tersebut digunakan untuk membantu biaya perawatan gedung. Ada 14 orang yang membantu merawat gedung ini, diantaranya 7 orang merupakan PNS (Pegawai Negeri Sipil ), dan sisanya adalah pegawai honorer.
WISATA SEJARAH
Pada hari-hari biasa, tempat ini sepi pengunjung. Pengunjung tertinggi pelajar yang datang secara berkelompok pada masa liburan sekolah. Mahasiswa sangat jarang berkunjung, sementara pengunjung umum relatif sedikit. Terkadang ada pula kunjungan nostalgia dari wisman Belanda.
Memandang bangunan kuno, beberapa perabot asli 60 tahun lalu, dan foto-foto para tokoh perundingan membuat dada saya sedikit bergejolak. Betapa mahal harga sebuah kemerdekaan? Betapa berat perjuangan mendapatkan pengakuan dunia akan kemerdekaan RI? Dan…oh, pada masa sekarang apa yang telah kita lakukan? Kita sibuk menjegal teman untuk mendapat jabatan, menumpuk harta korupsi di bawah bantal karena takut ketahuan, menjual tampang baik untuk mendapatkan pengakuan, bahkan ribut kursus laptop sementara rakyat miskin semakin menjerit kelaparan. Seharusnya tidak hanya pelajar (untuk mendapatkan bukti kongkrit dari mata pelajaran sejarah kemerdekaan RI) yang berkunjung ke museum ini, namun juga para pejabat dan anggota DPR agar ingatannya terbuka akan kerasnya perjuangan RI.
Setelah mengajak Pak Judi foto bersama, tepat pukul 3 sore saya berpamitan. Namun, sebelum menuju mobil saya menyempatkan diri berjalan menyusuri kawasan wisata Linggarjati. Tidak jauh dari Museum Linggarjati, tersedia juga obyek wisata alam, perhotelan, pusat hiburan musik dan kawasan peristirahatan (vila) sebagai pelengkap wisata Museum Linggarjati. Kita bisa menikmati udara sejuk Gunung Ciremai dari taman dengan pohon-pohon rindang, dilengkapi berbagai fasilitas, seperti kolam renang dan danau buatan.
Niscaya tidak hanya wisata sejarah yang mengasikkan jika kita mengunjungi Museum Perundingan Linggarjati, namun juga menumbuhkan semangat nasionalisme yang semakin hari semakin pudar digerus arus globalisasi. Selain itu kita bisa lebih menghargai jasa para pahlawan dalam memperjuangan kemerdekaan RI. Nah, tertarik berkunjung? Saya jamin, sobat semua tidak membuang waktu sia-sia jika datang ke sana.
(teks: Tary. Dok: Wija)